Minggu, 14 Desember 2014

paradigma sosial


PARADIGMA SOSIAL
Paradigma sosial merupakan kerangka berpikir dalam masyarakat yang menjelaskan bagaimana cara pandang terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan terhadap ilmu atau teori yang ada. Paradigma ini juga menjelaskan bagaimana meneliti dan memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah. Secara umum, paradigma diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu kuantitatif dan kualitatif. Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya:

1.      jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan
2.      jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan.

Hasil pengamatan dari beberbagai sudut pandang akan memberi kontribusi yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan tersebut. Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada hakikatnya kedua paradigma mempunyai keunggulan-keunggulan. Penggabungan kedua pendekatan diharapkan dapat meminimalkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dikedua paradigma.

Sabtu, 13 Desember 2014

Paradigma Politik

Ilmu politik tidak bisa lepas dari ilmu sosial yang telah lahir terlebih dahulu teori-teorinya. Meskipun kita tahu bahwa politik sudah ada sejak manusia pertama kali ada dan membentuk sebuah kelompok untuk bertahan hidup dari serangan kelompok lain, atau dari hewan dan alam. Disini kepemimpinan juga telah muncul, manajemen organisasi sudah ada, dan perpolitikan mulain berjalan.

Paradigma politik ini adalah suatu kerangka berfikir untuk mendapatkan pengertian tentang politik dan kemudian akan menyeluruh pada bagian-bagian lainnya dalam ilmu politik. Karena sebuah paradigma akan melahirkan cara, teknik, metode, strategi hingga teori pada suatu jenis ilmu.

1. Evolusi

Evolusi adalah perubahan yang membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak ada batas pasti, namun sampai ribuahn tahun. Dalam paradigma politik evolusi, prinsip dasar yang diusung adalah bahwa politik itu perubahan yang alamiah. Sehingga dalam cara pandang ini, seorang pemimpin tidak bisa dibentuk tapi dilahirkan.

Semua proses kehidupan terjadi tidak secara tiba-tiba, namun melalui proses dialekta sewajarnya, melalui tahapan-tahapan yang seharusnya. Tuhan menciptakan duniapun tidak serta merta ‘kun fayakun’ jadi maka jadilah secara utuh, bulat, total dan dunia menjadi ada. Meskipun Tuhan bisa, namun Tuhan tidak melakukannya krena Tuhan menginginkan manusia berfikir tentang penciptaan alam semesta –yang kini mulai tercerahkan- agar bertambah keimanan mereka terhadap pencipta.

Kembali pada perubahan politik, bahwa terjadinya negara yang baik, sejahtera, aman, dan makmur itu tidak bisa serta merta. Bahwa dengan dipimpin oleh, misalkan Soekarno, indonesia semata-mata akan jaya, tidak. Semua bidang sosial politik akan melalui proses-proses tertentu sehingga mencapai titik kulminasi suatu peradapan politik, dan setelah itu akan kembali bobrok hingga suatu saat puncak kejayaan (kulminasi) akan diraih kembali.

2. Fungsionalisme – Struktural

Prinsip dasar dari paradigma ini adalah bahwa politik dipandang sebagai sebuah sistem. Sedangkan suatu sistem itu terdiri dari subsistem-subsistem yang harus berkolaborasi menjalankan fungsi masing-masing dan berkordinasi secara struktural yang baik. Jadi dalam suatu tatanan politik negara, maka kita akan menemui subsistem-subsistem yang lain yaitu sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dlsb. Dalam kepemerintahan sendiri terdiri dari subsistem-subsistem yaitu Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif. Dimana masing-masing subsistem tersebut haruslah berjalan sesuai dengan fungsinya agar tercipta sistem politik yang baik.

3. Konflik

Dalam pergulatan dunia poitik rentan terjadinya konflik. Karena politik adalah percaturan kepentingan. Prinsip dasar dari paradigma ini adalah kepentingan, sehingga yang paling penting dalam politik adalah bagaimana memenangkan pertempuran. Setiap elite akan berusaha mengunggulkan kepentingannya diatas kepentingan orang lain. Disinilah nantinya konflik kepentingan akan terjadi dan kemudian akan terbentuk kekuasaan, kekuasaan lebih lanjut akan menciptakan kepemimpinan.

Untuk memenangkan percaturan politik seseorang atau kelompok harus mempunyai modal ; finansial, sosial, komunikasi, personality dsb. Dengan modal finansial yang cukup kita mampu mengiklankan diri, membentuk kepribadian seperti apa yang kita inginkan dihadapan masyarakat. Dan interaksi sosial yang telah dijalani akan membantu dalam meraih kemenangan karena akan mendapat simpati masyarakat luas. Begitu pula cara berkomunikasi yang baik, dan keribadian yang perfect akan lebih banyak menarik dukungan.

Jika dibiarkan berlarut-larut, tentunya politik akan semakin keruh dan tidak ada bedanya dengan hewan. Maka dari itulah perlu dibentuknya rule of the game, aturan main dalam menjalankan pola perpolitikan suatu negara. Karena tanpa peraturan ataupun perundang-undangan, sebuah negara kesatuan tidak akan terbentuk.

4. Interaksional – Simbolik

Prinsip dasar dalam paradigma ini adalah bahwa politik merupakan pertukaran simbol. Berbeda dengan tiga paradigma diatas yang mementingkan substansi nyata dalam berpolitik. Di paradigma ini regulasi perpolitikan menjadi semakin tersamar, bahkan kadang sesuatu yang tidak kita sadari merupakan iklan politik. Dimana-mana orang menciptakan realitas buatan, di pamflet, baleho, selebaran, koran, radio, televisi, alat komunikasi, dan kini merambah dunia maya orang-orang ramai memasang bermacam simbol untuk kepentingan politik.

Sehingga di dunia politik tidak ada sesuatu yang monosemi (bermakna satu). Semuanya bermakna ganda (ambiguitas), bahkan bisa saja dalam satu pesan politik mengandung ribuan makna tersirat (polisemi).

BLUSUKAN JOKOWI


Blusukan, sebuah gaya berpemerintahan yang baru?

Blusukan, adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa, yang oleh The Jakarta Post diterjemahkan sebagai impromptu visit, menjadi sangat populer setelah dipakai oleh Jokowi, gubernur Jakarta. Jokowi menggunakan kata itu untuk menggambarkan kegiatannya melakukan inspeksi langsung, seringkali tanpa sepengetahuan siapapun kapan dan kemana dia pergi, bahkan tanpa diketahui oleh staf dan wartawan yang selalu mengikuti geraknya. Kita kemudian mengetahui bahwa tujuan blusukan sesungguhnya adalah untuk melakukan komunikasi langsung dengan warga masyarakat, disamping adanya berbagai tujuan resmi lainnya, seperti untuk mencek implementasi sebuah proyek, mencek pelayanan publik yang diberikan olaeh kecamatan dan kelurahan, atau sekedar untuk melihat situasi di lapangan dan untuk mendengar langsung apa yang dikeluhkan oleh warga miskin di tingkat akar rumput.
Blusukan karena itu dapat diartikan secara luas sebagai semacam cara berpemerintahan dalam pengertian Foucaultian. Foucault, filosof dan ahli teori sosial yang menemukan istilah berpemerintahan (govermentality) dan seni untuk memerintah, berpendapat:
Apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah bukanlah sesuatu yang bersifat territorial, namun, sesuatu yang berkaitan dengan kompleksitas manusia dan segala sesuatunya. Segala sesuatu, dalam pemahaman ini, yang mana pemerintah semestinya terlibat, tidak lain adalah manusia dan hubungannya, keterkaitannya, imbrikasinya dengan berbagai hal yang terkait dengan kekayaan, sumberdaya, sarana bertahan hidup, teritori dengan kualitas spesifiknya, iklim, irigasi, fertilitas dan sebagainya; manusia dalam relasinya dengan adat istiadat, kebiasaan, cara bertingkah laku dan berpikir dan sebagainya; dan akhirnya manusia dalam hubungannya dengan hal-hal yang mencerminkan kenaasan dan ketidakberuntungan, seperti kelaparan, wabah penyakit, kematian dan lain-lain

Jumat, 12 Desember 2014

KAPITA SELEKTA KOMUNIKASI SOSIAL "EKONOMI"

ini pengalaman saya tentang perekonomian dalam hidup saya

sejak saya masuk kuliah,saya ditawarkan teman saya untuk mendaftarkan diri sebagai anggota "oriflame" setelah saya mengikuti saya menawarkan produk "oriflame" ke sebagian teman teman yang membutuhkan dan berminat untuk membelinya... 
 produk oriflame menjual berbagai kebutuhan wanita dan laki laki seperti make up( bedak,lipstik,farfume,handbody,shampo,sabun dll) dan itu saya berfikir karna oriflame sampai saat ini banyak yang menggunakannya,oleh karena itu saya berminat untuk menjadi anggota oriflame. dengan modal pendaftaran 50 ribu, jika ada yang membeli dari situlah keuntungan dapat saya raih, misalkan lipstik seharga 100 ribu, saya mendapatkan keuntungan 30% dari penjualan pembelian lipstik tersebut.

Sabtu, 06 Desember 2014

GAJAH


dari sebuah gambar diatas, manfaat gajah di indonesia dijadikan sebagai media hiburan yaitu atraksi atraksi yang terdapat di kebun binatang indonesia. selain itu gajah juga mempunyai kelebihan yang terdapat dibagian tubuhnya yang saat ini dapat kita lihat populasi gajah diindonesia sudah hampir punah. apa saja yang diambil dari bagian tubuh gajah? seorang oknum manusia yang tidak bertanggung jawab dengan teganya:(:(:(:(:(  membunuh gajah yang terdapat di hutan hutan indonesia,dengan harapan dapat mengambil gading yang harganya cukup mahal dan menjadi barang pajangan yang sangat unik. sebagian pembelinya ialah pejabat pejabat yang terkadang tidak pernah berfikir bahwa gajah adalah hewan yang harus dilestarikan.

pemabuk dan narkoba dilarang parkir


Dalam sebuah gambar diatas, bisa kita pahami bahwa arti dari tulisan diatas adalah "disediakan untuk pengemudi mabuk" dalam hal ini seseorang yang membuat parkiran seperti itu untuk memperingatkan bahwa mabuk dan memakai obat obatan terlarang dapat menyebabkan kecelakaan yang dapat mengakibatkan menabrak pohon dan mengganggu dan membahayakan pengemudi yang lain.

kapita selekta ilmu sosial (komunikasi psikologi)


Komunikasi dan Psikologi adalah bidang yang saling berkaitan satu sama lain, terlebih sama-sama melibatkan manusia. Komunikasi adalah kegiatan bertukar informasi yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah pendapat atau perilaku manusia lainnya. Sementara, perilaku manusia merupakan objek bagi ilmu psikologi. Sehingga, terbentuklah teori psikologi komunikasi.
Komunikasi merupakan sebuah peristiwa sosial yang terjadi ketika seorang manusia berinteraksi dengan manusia yang lain. Secara psikologis, peristiwa sosial akan membawa kita kepada psikologi sosial. Pendekatan psikologi sosial adalah juga pendekatan psikologi komunikasi.