Sabtu, 13 Desember 2014

BLUSUKAN JOKOWI


Blusukan, sebuah gaya berpemerintahan yang baru?

Blusukan, adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa, yang oleh The Jakarta Post diterjemahkan sebagai impromptu visit, menjadi sangat populer setelah dipakai oleh Jokowi, gubernur Jakarta. Jokowi menggunakan kata itu untuk menggambarkan kegiatannya melakukan inspeksi langsung, seringkali tanpa sepengetahuan siapapun kapan dan kemana dia pergi, bahkan tanpa diketahui oleh staf dan wartawan yang selalu mengikuti geraknya. Kita kemudian mengetahui bahwa tujuan blusukan sesungguhnya adalah untuk melakukan komunikasi langsung dengan warga masyarakat, disamping adanya berbagai tujuan resmi lainnya, seperti untuk mencek implementasi sebuah proyek, mencek pelayanan publik yang diberikan olaeh kecamatan dan kelurahan, atau sekedar untuk melihat situasi di lapangan dan untuk mendengar langsung apa yang dikeluhkan oleh warga miskin di tingkat akar rumput.
Blusukan karena itu dapat diartikan secara luas sebagai semacam cara berpemerintahan dalam pengertian Foucaultian. Foucault, filosof dan ahli teori sosial yang menemukan istilah berpemerintahan (govermentality) dan seni untuk memerintah, berpendapat:
Apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah bukanlah sesuatu yang bersifat territorial, namun, sesuatu yang berkaitan dengan kompleksitas manusia dan segala sesuatunya. Segala sesuatu, dalam pemahaman ini, yang mana pemerintah semestinya terlibat, tidak lain adalah manusia dan hubungannya, keterkaitannya, imbrikasinya dengan berbagai hal yang terkait dengan kekayaan, sumberdaya, sarana bertahan hidup, teritori dengan kualitas spesifiknya, iklim, irigasi, fertilitas dan sebagainya; manusia dalam relasinya dengan adat istiadat, kebiasaan, cara bertingkah laku dan berpikir dan sebagainya; dan akhirnya manusia dalam hubungannya dengan hal-hal yang mencerminkan kenaasan dan ketidakberuntungan, seperti kelaparan, wabah penyakit, kematian dan lain-lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar